Semua kejadian yang ada di sekitar kita. Semua kejadian yang melibatkan manusia, ketika berurusan dengan KRL maupun tidak. Silakan follow twitternya @SlametKereta

Rabu, 09 November 2011

Perhatian

Tadinya Slamet tidak terlalu peduli bila kereta berdesak-desakan. Telinganya dia sumbat dengan earphone dan mengalunlah lagu-lagu pilihan. Dari mulai Shakira sampai Didi Kempot. Slamet memang broadband, pita seleranya lebar banget.

Begitu masuk gerbong kereta yang padat, Slamet langsung menyelinap ke tempat lowong yang berada jauh dari pintu. Memandang keluar pun sekedar mencari satu tempat yang paling dia hapalkan. Bioskop Metropole, karena itu berarti dia sudah berada dekat Stasiun Cikini. Ketika orang-orang turun di sana, Slamet akan beringsut ke pintu. Setelah itu, turun di Stasiun Gondangdia.

Beberapa kali, terlihat oleh Slamet ada orang yang berdiri sangat rapat ke orang lain. Tapi itu semua orang lain, karena di atas kereta, menurut Slamet, tampaknya semua orang egois. Tidak menyapa siapapun, dan jarang yang berbicara kepada orang lain. Karena itu pula Slamet memilih untuk tidak terlalu memperhatikan. Karena berdiri terlalu rapat, ketika menoleh, akan dikira dengan sengaja mengganggu.

Sampai suatu hari Slamet membaca koran tentang korban pelecehan seksual di busway. Bagaimana si perempuan berteriak karena melihat seorang lelaki dengan alat kelamin yang sudah keluar celana. Bukan hanya itu, rok si perempuan bahkan tertumpahi cairan sperma. Justru itu yang membuat si perempuan berteriak dan sebagai akibatnya si lelaki dipukuli orang banyak.

Ini bukan urusan dipukuli atau teriakan. Tapi apakah bisa melakukan hal itu di tempat yang padat? Itu justru yang menggelitik pikiran Slamet. Hingga satu saat Slamet berdiri tepat bertempelan dengan seorang perempuan, saking padatnya gerbong.

Barulah Slamet sadar bahwa godaan itu bisa terjadi. Apalagi kasus di busway yang dibaca Slamet perempuan yang menjadi korban bertubuh cukup seksi dengan pakaian yang cukup terbuka. Bukan, Slamet tidak ingin membela lelaki yang melakukan pelecehan seksual itu. Bukan pula sedang mengkritik cara berpakaian perempuan.

Slamet hanya sadar bahwa godaan itu bisa muncul. Maka di sinilah peran otak dan hati bermain. Otak yang menyimpan memori, bisa mengingat apa yang terjadi dengan para pelaku pelecehan seksual. Nurani membuat manusia mengingat, bagaimana bila perempuan yang dilecehkan itu adalah anak Anda, saudara Anda atau istri Anda.

Saat pertanyaan itu diajukan oleh nurani kepada otak, maka akan dapat jawaban; aku akan marah besar pada pelaku pelecehan seksual itu. Nah, godaan bisa ada di mana saja. Ada pemilik kios yang memberi uang kembalian yang lebih banyak dari seharusnya. Itu godaan. Ada makanan di sebelah saat Anda lapar. Itu godaan. Ada teman yang sudah selesai menjawab semua pertanyaan dalam ujian. Itu juga godaan.

Jadi, cukup untuk jadi perhatian, bahwa nilai Anda ditentukan seberapa baik Anda mengendalikan godaan yang muncul di hadapan Anda.

Perhatian, perhatian. Jalur 2 dari arah Selatan akan masuk commuter line tujuan Jakarta. Kepada para penumpang diminta untuk mempersiapkan diri. Dan, Slamet akan melanjutkan ceritanya lagi nanti....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar