Setiap kali di stasiun kereta, Slamet melihat orang berlari-lari ingin naik kereta. Bahkan ketika masih jam 6 pagi. Slamet sering naik di Stasiun Duren Kalibata. Itu artinya kereta akan berhenti lagi di Cawang, Tebet, Manggarai, Cikini, Gondangdia, Gambir, Juanda, Sawahbesar, Manggabesar, Jayakarta dan terakhir Stasiun Jakarta Kota. Sisa 11 stasiun.
Banyak memang. Tapi rata-rata perjalan antar stasiun termasuk berhenti untuk turun dan nai penumpang, kurang dari 4 menit. Kalau ada 11 stasiun, maka paling lama ya cuma 45 menit, kan? Ini masih jam 6 lho. Berarti sebelum jam 7 pagi, mereka sudah sampai. Itu pun kalau tujuannya di Stasiun Jakarta Kota. Kan, jadi lebih cepat lagi kalau tujuan akhirnya Sawahbesar, misalnya.
'Met, mungkin mereka gak ngitungin se-njlimet kamu' kata suara hatinya. Slamet terangguk-angguk sendiri. Tapi, mereka kan kebanyakan pakai jam tangan, ya. Slamet melirik ke kiri dan kanannya di bangku peron. Benar, mereka menggunakan jam tangan. Jadi mengapa mereka tidak perhatikan jam berapa mereka berangkat dan jam berapa mereka tiba di tujuan? Sungguh membingungkan bagi Slamet.
Nah, mengapa juga Slamet bisa santai melihat-lihat kebiasaan orang lain? Tentu saja, karena Slamet naik di Stasiun Duren Kalibata dan turun di Stasiiun Gondangdia. Berarti dia hanya melewati 4 stasiun. Itu berarti total waktu yang dibutuhkan kurang dari 16 menit. Dan kantor Slamet hanya berjarak 6 menit jalan kaki mulai Slamet turun kereta.
Jadi Slamet bisa saja naik kereta yang datang sekitar 25 menit sebelum jam 8 pagi, kan? Karena masih banyak waktu untuk datang tanpa terlambat.
Slamet lebih bingung lagi, karena sedikit sekali orang yang melihat jam tangan tepat setelah turun dari kereta. Sebagian besar orang akan mengikuti arus keluar peron. Berbondong-bondong, berdesak-desakan. Sungguh luar biasa, begitu semua menjadi pegawai, punya atasan, mendadak setiap manusia yang dilahirkan oleh ibunya mendadak langsung bertransformasi menjadi robot.
Menurut Slamet, kalau memang tidak ingin terlambat, bukankah bisa dihitung dari mulai jam berapa harus berangkat, berapa lama bersiap ke kantor sejak bangun tidur, dan jam berapa bangun tidur. Kalaupun sesekali terlambat, toh tidak membuat perusahaan jadi bangkrut, sehingga perusahaan tidak akan memecat karyawannya yang sekali saja terlambat.
'Tapi kalau ada perusahaan yang memang memecat karena sekali terlambat?' Nah, itu juga membuat Slamet bingung. Bukankah semuanya orang Indonesia. Jadi mesti punya Tuhan. Bukankah kalau kita terus berusaha, Tuhan akan memberi rezeki?
Selain itu, kalau memang terjadi sesuatu dan menyebabkan karyawan terlambat, maka perusahaan justru yang merugi. Slamet jadi teringat ketika seorang petinggi di bagian sumberdaya manusia yang menyatakan bahwa dia akan menyetir dengan sangat cepat kalau terlambat.
Slamet mengatakan ke bapak itu. Justru sebenarnya perusahaan merugi kalau terjadi apa-apa karena si bapak ngebut. Betapa tidak, harus memberi santunan kecelakaan, belum lagi urusan pemakaman dan memberi santunan pada keluarga yang ditinggal. Setelah itu, harus mencari pegawai baru untuk melaksanakan pekerjaan yang ditinggal si pegawai.
Slamet berkata, "Apa bapak nggak pengen mengantar anak perempuan bapak untuk menikah?" Sekarang gantian, si bapak yang bingung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar