Kalau dari beberapa diskusi dengan teman-temannya, Slamet mendapat kesimpulan bahwa kemacetan di jalan raya justru karena keegoisan. Kok bisa begitu? Sekarang, coba kita lihat beberapa teman kita di kantor. Mereka bawa mobil ke kantor kan? Sendirian berangkat ke kantor, sendirian pula pulang ke rumah.
Cukup jauh padahal, tapi ya tetap saja mereka tempuh itu sendirian. Setiap hari. Padahal kan satu mobil bisa dimuat antara 4 orang (sedan) sampai 6 atau 8 orang (untuk mobil minibus seperti Kijang). Itu berarti kalau ada 4 orang yang bisa semobil, jadinya malah ada 4 mobil atau bahkan 8 mobil dengan satu penumpang di dalamnya. Berarti kemacetan bisa berkurang hingga 1/4 atau bahkan 1/8 ya?
Gak semudah itu. Kata orang-orang yang bepergian sendiri dari dan pulang kantor. Kan selama siang hari ada 4 sampai 8 keperluan berbeda. Benar juga, kata Slamet. Tapi teman-temannya Slamet malah ngotot. Okay, keperluan. Pekerjaan? Atau makan siang? Masak makan siang harus ke 4 tempat yang berbeda.
Atau katakanlah ada 4 sedan yang sama-sama berisi 4 orang setiap berangkat kantor. Ke kantor yang sama, jadi ada 16 orang. Tapi siang hari, 4 orang yang semobil ketika berangkat, berpencar, tapi bergabung dengan orang-orang dari mobil lain. Kan tetap aja bisa jadi 4 mobil masing-masing 4 orang?
Nah, itu yang kata teman-teman Slamet sebagai egois. Kan kalau cuma urusan makan, bisa ngikut. Atau paling gak, toh gak selalu tempat makan itu berada jauh dari kantor, sehingga harus menggunakan mobil. Jadi ya udah, bergabung aja lah.
Tapi kan kami gak tau siapa aja yang menuju arah yang sama? Tiba-tiba teman-teman Slamet tertawa terbahak-bahak. Udah tau nebeng.com kan? Semua info ada di sana tuh. Dari mulai yang cari pemberi tumpangan (cari pemberi tebengan) atau cari penebeng. Yang cari pemberi tebengan, adalah orang yang ingin ikut kelompok rute yang sesuai dengan rutenya ke kantor. Yang cari penebeng, berarti dia mau bawa mobilnya dan mencari teman yang serute.
Biasanya seluruh penumpang akan bersepakat bagaimana cara membayari seluruh biaya yang timbul, bbm maupun tol. Jadi semua bisa disolusikan dengan mudah. Kenapa juga harus menggunakan satu kendaraan sendirian. Selain menghemat, juga ikut mengurangi kemacetan.
Jadi, ada masalah lain lagi? Seharusnya gak ada, kalau semua orang mengurangi keegoisannya. Bahkan bagi para calon penebeng, bisa memilih bukan hanya rute, tetapi mobil yang akan ditebengi. Tentu saja beda pemberi tebengan, beda iuran yang ditetapkan.
Selain dari situs tadi, ada kombeng.com yang juga berkaitan dengan tebeng menebeng kendaraan untuk pergi dan pulang kerja. Jadi kalau masih ingin membawa kendaraan sendiri, kenapa juga gak mendaftarkan diri untuk menjadi pemberi tebengan.
Ada teman Slamet yang bilang bahwa jadi pemberi tebengan beresiko menerima penebeng yang kriminal. Oh ya? Berarti perlu menggunakan nomer telpon prabayar. Toh ketemu pertama ketika berangkat kantor, masih pagi dan ramai orang. Kalau masih khawatir, sebelum mulai memberi tebengan, pastikan ada teman yang berangkat dari rumah. Sehingga penebeng kriminal gak bisa sembarangan.
Gimana dengan privasi? Ayolah. Kan selama ini mengemudi sendiri, gak ada hal privasi yang dilakukan selama mengemudi. Baca dokumen kantor? Gak bisa kalau lagi nyetir. Ngobrol di ponsel? Juga gak bisa di keramaian jalanan. Jadi privasi apalagi?
Bahkan nebeng bisa memperluas pergaulan. Toh kita satu saat butuh informasi, butuh bantuan, butuh banyak hal lain yang mungkin bisa didapat dari komunitas nebeng ini, kan? Bahkan kata Slamet, dibukunya Bill Gates , Business is in The Speed of Thought, di Microsoft sudah ada komunitas nebeng. Setiap pegawai baru akan diberikan informasi tebengan dari area rumahnya ke kantor.
Jelas-jelas gak ada seorangpun pemilik kendaraan pribadi di Jakarta yang sekaya Bill Gates. Jadi masalahnya bukan pamer kekayaan kalau begitu, pamer kebodohan mungkin ya? Atau pamer keegoisan? Atau pamer kesombongan? Wah, Tuhan dikemanain tuh?
Berarti di kendaraan umum, gak ada orang egois dong, Met? Gak juga. Masih ada juga orang egois. Contohnya orang-orang yang berdiri di pintu keluar kendaraan umum, padahal jelas-jelas dia turun di perhentian (terminal/stasiun) terakhir. Mengapa juga dia gak beringsut agak masuk agar yang turun lebih dulu, bisa leluasa.
Tapi mungkin karena di dalam juga padat, Met? Ah, Slamet pernah mengalami sendiri. Dua orang bapak naik di Stasiun Cikini, sore hari, ke kereta menuju Depok. Karena dua orang bapak itu, Slamet agak mundur sedikit. Toh di bagian kiri dan kanan pintu agak lowong. Sehingga dua orang bapak itu berdiri menutup pintu keluar gerbong.
Slamet toh turun di Stasiun Durenkalibata. Jadi, Slamet menduga kedua bapak itu akan turun di Stasiun Manggarai atau Tebet atau Cawang. Jadi setelah kedua bapak turun, Slamet akan bergerak ke pintu kereta. Eh, ternyata kedua bapak dari pembicaraannya akan turun di Stasiun Depok.
Luar biasa kan? Padahal melalui pengeras suara di gerbong, kondektur selalu memberi tahu, agar penumpang yang masih jauh ke tujuan untuk masuk dan tidak berdiri di dekat pintu keluar kereta. Jelas-jelas kedua bapak itu gak akan mau dibilang tuli atau bodoh, kan? Jadi mengapa mereka tidak mau beringsut agak ke dalam, padahal cukup lowong?
Ada juga yang lucu. Pernah sekali Slamet melihat seorang ibu tetap duduk padahal sudah diberitahu untuk berdiri dan berjalan ke dekat pintu karena sudah hampir sampai di Stasiun Cikini. Karena yang memberi tahu sedang berdiri di hadapan si ibu, dia tetap tidak mau berdiri.
Saat tiba di Stasiun Cikini, para penumpang yang berada di dekat pintu turun dan penumpang yang menunggu di peron naik. Ketika itu si ibu ingin buru-buru berdiri dan turun dari kereta. Jelas gak mungkin karena terdorong masuk oleh rombongan penumpang yang naik di Stasiun Cikini. Si ibu panik dan berteriak, padahal dia sudah diingatkan.
Egois? Entahlah. Yang pasti semua kejadian itu membuat Slamet bisa tertawa geli.
Lucu
BalasHapus