Slamet tertarik dengan promosi tiket abonemen KRL. Seru juga ya kalau gak perlu antri, langsung tunjukkan kartu atau tiket abonemen, terus masuk dan gak perlu dibolongin tiketnya.
Mulailah Slamet bertanya-tanya, tadinya. Sekitar bulan Februari 2011 Slamet dapat jawaban bahwa tiket abonemen nilainya Rp.274.000,- Ketika itu tiket Depok - Jakarta seharga Rp.5.500,-
Wah, itu berarti 50 x naik kereta ya? Padahal kan Slamet hanya naik kereta pergi dan pulang kantor. Kalau sebulan hanya ada 20 hari kerja, pergi dan pulang berarti hanya perlu 40 kali naik kereta. Berarti kalau gak abonemen, Slamet hanya perlu keluar uang Rp.220.000,- Kok jadi lebih mahal ya kalau abonemen?
Batallah Slamet untuk bergaya-gaya pegang tiket abonemen. Dan tetap saja Slamet memilih antri ketika sampai di stasiun dan menunggu dengan tenang kereta yang akan datang. Saat itu keretanya bernama AC Ekonomi.
Bulan September 2011 keretanya berubah menjadi Commuter Line. Tetap saja kereta AC Ekonomi seperti yang dinaiki Slamet sebelumnya. Bahkan katanya, kereta Pakuan yang dulu dinaiki orang-orang yang tinggal di Bogor dan hanya berhenti di Depok, Stasiun UI, Gambir dan Stasiun Jakartakota sejak itu juga menjadi Commuter Line.
Sepertinya orang yang biasa naik Pakuan juga tidak terlalu mengeluh. Slamet berhitung, ketika naik Pakuan mereka harus bayar Rp.11.000,- sekali naik. Kalau pergi dan pulang kantor, berarti mereka mengeluarkan Rp.22.000,- sehari. Kalau sebulan 20 hari kerja berarti mereka keluarkan Rp.440.000,-
Sejak berubah menjadi Commuter Line, orang-orang yang tadinya menggunakan Pakuan jadi membayar Rp.7.000,- sekali naik, Rp.14.000,- pergi dan pulang kantor. Berarti kalau 20 hari kerja, hanya keluar uang Rp.280.000,- per bulan. Berarti mereka menghemat pengeluaran Rp.160.000,- setiap bulan.
Jadi, kalau tadinya mereka hanya berhenti di beberapa stasiun saja, maka sekarang mereka berhenti di setiap stasiun yang dilewati kereta. Baiklah, penghematan sebesar tadi diganti dengan perjalanan yang jadi sedikit lebih lama. Mungkin tidak mengapa. Atau karena memang tidak ada pilihan lain ya?
Sepertinya ada yang lebih seru nih. Karena Slamet tidak berangkat dari Bogor maka apa yang dikatakan orang Bogor tentang KRL gak terlalu diperhatikannya. Yang menarik perhatian Slamet adalah tiket rute Depok-Jakarta, yang harus Slamet jalani dari tadinya Rp.5.500,- berubah menjadi Rp.6.000,-
Oh ya, sebelum jauh membingungkan pembaca. Kata Slamet, pagi hari dia berangkat dari Stasiun Duren Kalibata dan turun di Stasiun Gondangdia, rute sebaliknya ditempuh untuk pulang. Tapi KRL hanya menetapkan dua tarif: Bogor-Jakarta atau Depok-Jakarta. Karena rute Slamet ada dalam jarak Depok-Jakarta, maka Slamet menyebut tarif itu bukannya Kalibata-Gondangdia.
Yang lebih menarik perhatian Slamet adalah tarif abonemen rute Depok-Jakarta turun, saudara-saudara. Luarbiasa! Selama ini tidak pernah ada tarif yang turun di Indonesia. Hebat! Dan selama ini rute Depok-Jakarta memang tidak menggunakan kereta yang seperti Pakuan (berhenti hanya di beberapa stasiun saja). Benar-benar fenomena yang sangat, sangat, sangat jarang terjadi di tanah tercinta ini!
Turun dari Rp.275.000,- menjadi Rp.238.000,- Luar biasa sekali. Turun hingga Rp.27.000,- Tapi tunggu sebentar. 20 hari kerja, berarti 40 kali naik kereta. Kalau satu kali naik kereta harga tiketnya Rp.6.000,- berarti 40 kali naik kereta harga tiketnya total Rp.240.000,- Wah, hematnya baru Rp.2.000,- saja!
Slamet mencoba ngobrol dengan kondektur. Memang sih, hematnya sedikit kalau abonemen, tapi kan gak perlu ngantri. Jawaban yang hebat. Benar sekali! Tapi selama Slamet naik dari Stasiun Duren Kalibata setiap pagi di hari kerja, antrian paling panjang hanya 3 orang. Paling panjang! Lebih sering Slamet gak ngantri kalau mau beli tiket.
Oh, mungkin karena dari tengah ya? Lalu Slamet perhatikan, orang yang pulang ke Depok sering naik juga kereta menuju Bogor karena memang searah dan tidak dilarang untuk naik. Jadi mungkin di Depok yang antriannya panjang. Karena kalau mereka berangkat naik Depok-Jakarta, Depok kan jadi stasiun awal. Mungkin di sana antriannya panjang.
Slamet bertanya ke temannya yang pulang ke Depok. Apa iya orang Depok lebih suka tiket abonemen karena ngantri? Ah, hematnya cuma 2 ribu, Met. Ngantrinya juga gak panjang-panjang amat. Paling panjang yang cuma 10 orang. Belum lagi kalau berangkat dari Depok kan ada banyak kereta. Bisa aja naik dari yang dari Bogor, dari Bojong atau yang dari Depok.
Nah lho. Berarti sebenarnya semua orang yang bepergian di jarak antara Depok hingga Jakartakota sebenarnya yang paling banyak, karena mereka boleh naik rute Bogor-Jakarta, Bojonggede-Jakarta, atau Depok-Jakarta. Mereka diperhatikan dengan memberi keleluasaan memilih rute.
Bentar ya, tiket berlangganan itu kan dibeli di awal bulan, untuk dipakai selama sebulan ke depan? Berarti PT KAI atau Commuter Line terima uang dulu kan? Slamet mengingat-ingat langganan koran.
Ambil contoh Kompas, harga ecerannya Rp.3.500,- itu berarti kalau beli eceran selama 30 hari, harus membayar Rp.105.000,- Kalau berlangganan, dan bayar di muka untuk sebulan penuh hanya bayar Rp.78.000,- Itu berarti selisihnya sekitar Rp.27.000,- atau kalau dibandingkan eceran ya berarti sekitar 7 hari harga eceran.
Nah lho. Kok selisih harga eceran tiket Commuter Line hanya Rp.2.000,- dibanding abonemennya. Padahal harga ecerannya (sekali naik) Rp.6.000,- Slamet bingung. Apakah memang seharusnya nilai dua ribu itu ditambah gak ngantri di Depok berarti setara dengan 7 kali naik kereta ya? Apakah karena orang-orang Depok justru memang suka ngantri? Atau karena Slamet yang terlalu pintar berhitung?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar